Penyebab Emboli Paru, Faktor Risiko, dan Metode Pengobatannya

 

 

Emboli paru merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi jika arteri pulmonalis (pembuluh darah yang berfungsi membawa darah dari jantung ke paru-paru) mengalami penyumbatan. Penyumbatan ini umumnya disebabkan oleh gumpalan darah yang berasal dari kaki atau bagian tubuh lainnya.

Ukuran gumpalan darah yang menyebabkan penyumbatan tersebut umumnya cukup kecil, sehingga tidak membahayakan nyawa. Akan tetapi, sekecil apa pun penyebab emboli paru yang berupa gumpalan darah tersebut tetap bisa merusak paru-paru. Penderita emboli paru memerlukan perawatan secepatnya untuk mengurangi risiko berupa kerusakan paru-paru.

Penyebab Emboli Paru

Penyebab emboli paru biasanya terjadi karena adanya gelembung udara atau gumplan darah yang muncul dan itu lebih dari satu. Beberapa material yang bisa menyumbat arteri pulmonalis selain gumpalan darah adalah gelembung udara, lemak dalam sumsum tulang panjang yang patah, tumor, dan air ketuban.

Sebagai salah satu penyebab emboli paru-paru yang paling umum terhadap terjadinya penyumbatan arteri pulmonalis, gumpalan darah dapat dialami karena beberapa hal, di antaranya adalah darah yang terlalu mudah menggumpal, tubuh yang kurang aktif bergerak, dan cedera di pembuluh darah. Mengenai penyebab ini, setiap penderita emboli paru mempunyai penyebab yang berbeda dengan kondisi sakit yang berbeda-beda pula.

READ  Cara Mengobati Edema Paru dan Pencegahannya agar Tak Mengalaminya Lagi

Faktor Risiko Emboli Paru

Setiap gangguan kesehatan pasti mempunyai penyebab dan juga faktor pemicunya. Berbagai faktor pemicu tersebut harus diketahui karena tidak kalah pentingnya dengan penyebab emboli paru. Mengapa sangat penting? Mengetahui, memahami, dan memperhatikan faktor risiko tersebut dapat memudahkan proses penyembuhan sebelum gejala penyakitnya semakin parah. Dengan meminimalisasi, bahkan menghindari faktor risiko bisa mencegah komplikasi dan agar penyakitnya tak kambuh lagi.

Beberapa faktor risiko yang dimaksud tersebut adalah pernah mengalami penggumpalan darah, sudah berusia 60 tahun lebih, mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, merokok, dan mengidap penyakit jantung atau kanker. Kehamilan juga meningkatkan risiko mengalami gangguan kesehatan ini yaitu pada saat enam pekan setelah melahirkan. Mempunyai riwayat keluarga yang mengidap emboli paru juga menambah risiko mengalami kondisi ini.

READ  Pastikan dapat memberikan pertolongan pertama tersedak pada orang-orang disekitar anda

Metode Pengobatan

Tindakan medis yang dilakukan untuk menyembuhkan emboli pasti disesuaikan dengan kondisi dan penyebab emboli paru sesuai pemeriksaan dari setiap pasien. Pada tahap awalnya, dokter akan melakukan pemeriksaan diagnosis terlebih dahulu untuk memastikan apakah pasien benar-benar mengalami emboli paru dan apa penyebab pasti dari gejala yang dialami.

Pemeriksaan diagnosis untuk emboli paru diperoleh melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan tes gejala. Dikutip dari hellosehat.com, beberapa tes gejala yang dilakukan adalah ECG, X-ray pada dada, tes darah, CT Scan pada dada, sampai pindaian paru-paru. Tes darah diperlukan untuk memeriksa gumpalan (D-dimer). Apabila tes ini tidak menghasilkan apapun dan emboli paru masih saja terjadi, X-ray khusus yang dikenal dengan nama angiography akan dilakukan.

READ  Disfagia adalah Masalah Serius? Inilah Penjelasannya

Tujuan utama dari metode pengobatan emboli paru ini adalah untuk mencegah terbentuknya gumpalan darah yang baru sekaligus agar gumpalan darah yang sudah ada tidak membesar. Terdapat empat cara penanganan emboli paru, di antaranya adalah pemberian obat, saringan pembuluh darah, operasi, dan penggabungan prosedur ultrasound juga obat.

Berbagai metode pengobatan tersebut harus segera dilakukan karena jika tidak, akan menimbulkan komplikasi. Penyumbatan arteri pulmonalis yang tidak diobati atau yang terlambat diobati akan memicu hipertensi pulmonalis. Jaringan yang tersumbat gumpalan juga akan mati atau dikenal dengan kasus infark paru. Kondisi ini membuat paru-paru jadi semakin sulit menyediakan oksigen ke seluruh tubuh.

 

sumber artikel:

hellosehat.com

www.alodokter.com

 

sumber gambar:

res.cloudinary.com

bidanku.com